Ketika masih duduk di bangku tsanawiyah dulu, tepatnya di madrasah Qudsiyyah-Kudus- sekira 16 tahun yang lalu, saya pernah mendapat pelajaran ilmu Falak atau ilmu Hisab. Dalam ilmu ini, saya tidak hanya belajar hitung menghitung waktu untuk menentukan awal waktu sholat maupun menghitung awal bulan hijriyah dengan beragam rumus dari kitab badi’at al-mitsal, tetapi juga mendapat teori untuk menghitung lama-pendeknya suatu siang atau malam dalam suatu hari.
Pernah suatu waktu, saya dan teman-teman diminta pak guru untuk menghitung lama-pendeknya waktu siang di suatu kota di Rusia. Yang terjadi saat itu adalah waktu siang tidak lebih hanya sekitar 6-7 jam. Kami pun mencoba membayangkan bagaimana jika harus berpuasa Ramadhan dengan kondisi dimana siang lebih panjang daripada malam. Karena hanya sekedar tugas dari pak guru, saya yang saat itu masih berumur belasan tahun dan tidak pernah bersentuhan langsung dengan kondisi dimana siang atau malam menjadi lebih panjang, tidak memiliki refleksi apapun terhadapnya. Apalagi implikasinya pada kehidupan yang lebih luas. Tentu, saya dan teman-teman hanya bisa berkata; ini pak hasil tugasnya. Ternyata siangnya lebih panjang daripada malamnya. Pak guru sendiri tidak banyak memberi penjelasan apa yang terjadi dengan suatu daerah dimana siang lebih panjang dan malam begitu pendek.
Tapi, 16 tahun kemudian, ketika saya sedang tinggal di Adelaide, ibukota negara bagian South Australia, mengalami kondisi dimana siang menjadi lebih panjang daripada malamya. Ya, itu terjadi pada hari Ahad, 5 Oktober 2008 lalu. Orang menyebutnya sebagai Daylight saving time. Sebagai pendatang baru di negerinya Kevin Rudd, tiba-tiba saja ada pemberitahuan bahwa putaran jam harus berputar lebih cepat 1 jam. Seumur-umur, baru kali ini ada perintah untuh mempercepat putaran jarum hingga 1 jam. Artinya, jam kita yang awalnya jam 12.00, langsung diminta berputar pada arah jam 1.
Si Raymond el Halou, kakek asal Lebanon yang tinggal serumah, bahkan sempat kelabakan ketika mau pergi ke gereja. Pasalnya, dia mengira masih jam 08.30 pagi, padahal sebetulnya sudah jam 09.30, waktu dimana dia harus bersiap pergi ke gereja. Untungnya, temannya sesama jamaah gereja segera datang dan membangunkannya. Ketika dia pulang dari gereja, dia bercerita kalau tidak hanya dia yang kelabakan dengan perubahan jam tersebut. Banyak jamaah gereja yang datangnya terlambat gara-gara daylight saving time ini. “Pemerintah Australia telah mengumumkan soal daylight saving time ini kepada warga baik lewat radio atau televisi,” kata Raymond kepadaku. Namanya orang, tetap saja ada lupanya. Al-insan mahal al-qotho' wa an-nisyan, kata orang arab.
Memang. Daylight saving time ini membuat waktu siang lebih lama daripada malam hari. Sebagai gambaran, waktu sholat maghrib saja baru tiba pukul 07.30 PM. Artinya, walau jam 7 malam, tapi matahari masih bersinar dengan santainya, dan baru tenggelam sekira setengah jam kemudian. Dan paginya, matahari ini akan muncul lebih awal.
Adanya Daylight saving time ini secara tidak langsung menjadi berkah bagi mereka yang bekerja di kebun, misalnya. Tak pelak, orang yang bekerja di kebun strawbery misalnya, dapat bekerja sejak jam 6 AM hingga 7 PM. 13 jam! Ya, karena pada jam 7 PM, matahari masih menyinari bumi. Karena itu, buah strawbery masih bisa dipetik.
Akan tetapi, hal ini tidak mengubah jam kerja di sektor formal. Walaupun pada jam 7 PM, matahari masih bersinar, warga tidak akan menambah jam kerja hingga matahari terbenam. Hal ini karena mereka mematok jam kerja rata-rata pada pukul 7/8 AM hingga 4/5 PM.
Ya, jika kembali Indonesia kelak, tentu saya bisa bercerita tentang negeri dimana siang bisa begitu panjang dan malam begitu pendek. Jika 16 tahun lalu hal ini baru sekedar hitungan teori dalam secarik kertas, saat ini saya mengalaminya sendiri.....
Oktober 15, 2008
Siang yang begitu panjang.....
Diposting oleh
M. Zainal Anwar
di
16.29
0
komentar
Label: Jelajah
Oktober 07, 2008
Liburan "Kupatan"
Di Kudus atau mungkin juga di daerah lain di Indonesia, kupatan sering identik dengan plesir. Bagi orang jawa, kupatan adalah hari raya atau istilah jawanya bodo kupat. Bodo Kupat ini jatuh tujuh hari setelah hari raya idul Fitri. Mungkin bodo kupat ini diperuntukkan bagi mereka yang berpuasa enam hari berturut-turut pasca 1 Syawal. Yang pasti, kupatan selalu identik dengan berlibur ke tempat wisata.
Mungkin karena terdorong faktor itu, saya beserta istri dan beberapa teman pergi melancong ke beberapa tempat di Adelaide. Setelah berjalan ke luar kota sekitar 45 menit, akhirnya kami tiba di tempat tujuan pertama yakni Cleland Wildlife Park. Disini, akhirnya resmilah saya berada di Aussie. Lho kok??? Ya, kalau belum ketemu kangguru dan saudaranya koala, katanya belum sah menginjakkan kaki di Aussie. Ini mungkin seperti pergi ke Malioboro jika datang ke Yogyakarta. Setelah itu, perjalanan berlanjut ke mount Lofty. Di Mt. Lofty ini, kita bisa melihat kota Adelaide dari atas bukit. Hanya itu yang bisa dilihat, karena sampai di Mt. Lofty ini sudah terlalu sore yakni jam 5 sehingga sudah hampir ditutup.
Perjalanan pun berlanjut ke Hahndorf, sebuah kota kecil, semacam kecamatan kalau di Indonesia. Hahndorf merupakan daerah di Adelaide yang pertama kali disambangi oleh keluarga besar Prussian Lutheran pada 1839.
Nama Hahndorf sendiri berasal dari Captain Dirk Hahn yang tiba di Adelaide pada 1838 bersama para imigran lain dari Eastern Provinces of Prussia. Daerah ini sendiri sangat bernuansa jerman karena memang pada awalnya banyak didiami para imigran asal Jerman. Karena kami pergi pada hari sabtu dan sudah sore hari, banyak toko yang sudah tutup.
Walhasil, liburan dalam suasana kupatan pun tetap meriah...
Diposting oleh
M. Zainal Anwar
di
11.32
0
komentar
Lebaran di OZ
Diposting oleh
M. Zainal Anwar
di
10.53
0
komentar